Keinginan
kuat untuk mandiri, memotivasi Subkhan Nurtaufiq (41) menekuni dunia
wirausaha dibandingkan harus menjadi pekerja (buruh) seperti kebanyakan
pemuda lain di kampungnya. Dengan modal ‘nekat’, Nurtaufiq yang baru
lulus dari sekolah menengah kala itu memberanikan diri mengkreasi limbah
kelapa (batok) menjadi produk kerajinan yang unik. Cibiran yang datang
dari masyarakat sekitar terkait pilihan hidupnya itu justru makin
membulatkan tekad Nurtaufiq muda untuk membuktikan diri bahwa batok bisa
mengantarkannya menjadi
pengusaha sukses.
Tahun 1992 menjadi titik awal bagi Nurtaufiq memperoleh ilham membuat
kreasi dari batok kelapa. “Ketika itu saya jalan-jalan di Malioboro, di
situ saya mengamati banyak kreasi kerajinan sederhana yang laku (laris),
dimana salah satunya adalah gantungan kunci dari batok kelapa, kemudian
saya bertekad bahwa saya juga harus bisa membuatnya,” jelas Nurtaufiq
kepada tim liputan bisnisUKM, Jumat (3/3). Berbekal peralatan seadanya,
Nurtaufiq kemudian memulai membuat aneka jenis gantungan kunci dari
batok kelapa di rumahnya Santan Guwosari Pajangan Bantul. ‘Cumplung Aji’
menjadi pilihan nama usaha yang dipilih Nurtaufiq dalam memasarkan
produk kreasinya itu.

Beragam
kreasi gantungan kunci itu dipasarkannya di Malioboro. Namun, hasil
kerja kerasnya kala itu ternyata tidak sebanding dengan kenyataan yang
diperolehnya di lapangan. “Saya menjualnya dengan harga Rp.500,00/pcs,
namun hanya ditawar Rp.300,00/pcs oleh pembeli, kondisi demikian terjadi
sekitar tahun 1992 sampai dengan 1994” keluhnya. Situasi tersebut
lantas membuat Nurtaufiq berfikir keras bagaimana memperoleh pasar yang
lebih baik. Alhasil, berbekal informasi yang ada, dirinya mulai rajin
ikut serta dalam beberapa pameran yang diselenggarakan skala lokal
maupun nasional. Dari situlah, produk kreasinya mulai dilirik konsumen
(buyers) dari pasar nasional dan mancanegara.
Puncaknya, pada tahun 1996 Nurtaufiq memperoleh pesanan dari Canada
berupa alat musik maracas sebanyak 700 pcs, seharga Rp.8.000,00/ pcs.
“Itu terjadi ketika saya mengikuti pameran di salah satu hotel di Jogja,
dari situlah saya berfikir untuk merubah orientasi pasar saya ke pasar
ekspor dimana mereka lebih menghargai kreasi seperti ini (kerajinan
batok) dibandingkan pasaran lokal yang saat itu persaingannya tidak
sehat,” ujar alumni jurusan peternakan Unwama Jogja tersebut. Sejak
itulah, Cumplung Aji melayani 75% pasaran ekspor, sementara untuk
pasaran lokal hanya 25%.

Permintaan yang semakin tinggi membuat Nurtaufiq mulai berfikir untuk
merekrut karyawan dalam jumlah besar. “Saat itu ada 8 orang tenaga
produksi awal yang bekerja dengan saya, dan saya sebut mereka sebagai
karyawan inti, karena ketika ada pesanan dalam jumlah besar, tenaga saya
bisa sampai 50’an orang, dengan sistem borongan,” jelasnya. Selain
gantungan kunci yang menjadi ‘cikal bakal’ lahirnya Cumplung Aji, saat
ini tidak kurang terdapat 200’an jenis kreasi produk yang mereka
produksi, dimana semuanya berbahan dasar
batok kelapa.
Beberapa diantaranya sendok, garpu, piring, gelas, teko, mangkok,
hiasan dinding, sumpit, dll.g baru lulus dari sekolah menengah kala itu
memberanikan diri mengkreasi limbah kelapa (batok) menjadi produk
kerajinan yang unik. Cibiran yang datang dari masyarakat sekitar terkait
pilihan hidupnya itu justru makin membulatkan tekad Nurtaufiq muda
untuk membuktikan diri bahwa batok bisa mengantarkannya menjadi
pengusaha sukses.
( Artikel di ambil dari liputan Bisnis UKM )